Pernahkah Anda membayangkan, setelah melakukan penerbangan hanya beberapa jam saja, dari satu kota ke kota yang satu lagi, Anda telah dihitung melakukan perjalanan selama satu hari penuh dan karenanya day and date pada jam tangan Anda tidak sesuai lagi dengan kenyataan?
Day and date yang tertera di jam tangan Anda sudah harus dimajukan satu hari, meskipun jam tangan Anda tidak mengalami masalah; tidak macet, mati atau kehabisan baterai. Tanggal dan hari pada jam analog (atau jam digital) anda sudah tidak cocok lagi dengan hari dan tanggal di lokasi di mana Anda sekarang (terakhir) berada. Pada saat kita melihat jam tangan dan kemudian melihat jam dinding di tempat kita "berlabuh" terakhir, kita akan kaget, dan mengira jam tangan kita sedang 'ngadat', padahal tidak.
Kejadian langka demikian itu bisa membingungkan siapapun sesaat, kalau kita tidak diberitahu orang atau mengetahui seluk-beluk sebelumnya tentang garis waktu!
Orang akan mengalami hal ini -- mau tak mau -- manakala ia terbang (juga berlayar) melintasi Samudra Pacifik dari Amerika ke Asia (dari timur menuju barat/ searah matahari). Sebagai misal, dari Los Angeles ke Hong Kong, Tokyo, Singapura dan kota-kota lainnya di kawasan sebelah barat Amerika. Pengalaman ini juga penulis alami saat mendapat tugas dari perusahaan untuk road show mencari investor di New York, Boston, dll bersama tim.
Ceritanya, setelah berkeliling di bebebrapa kota besar di beberapa negara bagian, kemudian sampailah di Los Angeles (LA) pada hari JUMAT untuk pulang ke Jakarta melalui Hong Kong. Penulis berangkat agak sore dengan pesawat SQ dari LA dan setelah beberapa jam penerbangan (kalau tak salah 14 jam saja) menyebrangi Samudra Pacifik sepanjang 7931 mil atau 12.763 km lebih, mendaratlah di Hong Kong dengan selamat. Pada saat sampai di hotel penulis sempat dibuat bingung saat check in di hotel di Hong Kong, ternyata jam di dinding telah menujukkan hari hari MINGGU, padahal jam di tangan masih menunjukkan hari SABTU pagi hari versi waktu yang terbawa dari LA; jam analog penulis masih melaksanakan tugasnya dengan baik.
Setelah dipikir-pikir dan merenungkan realitas yang dialami barusan, saya (jadi) pernah mengalami tidak menikmati SATU hari SABTU. Hilang, raib, dan tak pernah muncul dalam buku harian atau kenyataan, gara-gara garis waktu (date line) pada garis BT 180 derajat yang membujur seakan membelah secara vertical Samudra Atlantik yang luas itu.
Dalam mata pelajaran geology atau ilmu bumi, kita semua pernah mendengar dan diberitahu oleh guru di kelas, bahwa ada garis imajiner yang membagi area bumi dan laut yang bulat ini menjadi terpisah dua. Di sisi kanan atau kiri dari garis itu, hari dan tanggalnya sudah berbeda. Konon, kata Wikipedia, pada saat matahari tegak lurus bersinar di garis rekayasa itu, maka di London tepat pada pukul 0.01, yang berarti tepat saat pergantian hari dan tanggal (bertambah satu hari). Kok demikian? Kenapa di garis itu?
Jawabnya begitulah convensi dunia, ketentuan penanggalan Gregorian dan kita harus mengikuti. Sementara bagi para tetua kita di Jawa dan juga di Bali, perpindahan hari itu bukan pada pukul 00.00 tetapi pukul 18.00. Ingat saja misalnya, kalau Sabtu malamnya (pukul 18.00) lalu disebut malam Minggu, bukan malam Sabtu. Jadi dikesankan secara filosofis, bahwa dunia ini tercipta dimulai dengan malam, baru siang. So...sesuai juga ya, dengan judul buku RA Kartini, habis gelap terbitlah terang. Jadi itu juga menjadi dasar kenapa bayi yang lahir sesudah pukul 18.00, di kebanyakan daerah seperti disebut di atas, dianggap sudah masuk ke hari berikutnya. Jadi kalau mau minta diramal, peruntungannya misalnya, maka mengikuti garis waktu versi orang-orang tua/ leluhur kita. Itu kalau mau....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar